Dampak Vaksin Palsu Bagi Kesehatan

Monday, July 18th 2016. | Uncategorized

Dampak Vaksin Palsu Bagi Kesehatan -, Sejak kasus vaksin palsu merebak Juni 2016 dulu, catatan Polri menunjukkan sedikitnya 197 bayi teridentifikasi mendapat suntikan vaksin palsu yg diduga dibuat & diedarkan 20 orang.

Vaksin palsu yg memapar beberapa ratus bayi tersebut diduga disuntikkan di 37 alat kesehatan, temasuk 14 hunian sakit, yg menyebar di kawasan Jabodetabek.

Dulu, apa resiko vaksin palsu pada para bayi? Apakah vaksinasi ulang menyelesaikan masalah? Berikut penjelasan dari beraneka dokter yg kami himpun :
Apa resiko vaksin palsu?

Dirga Sakti Rambe, selaku dokter spesialisasi di bagian vaksinologi, mengemukakan resiko vaksin palsu dapat ditelaah dari dua sudut, yaitu keamanan product & proteksi.

Dari sisi keamanan product, Dirga merujuk keterangan jumlahnya pelaku yg dimuat sarana massa bahwa utk menciptakan vaksin palsu mereka mengkombinasikan cairan infus bersama vaksin original. Campuran tersebut, menurut Dirga, tak berdampak fatal kepada badan dalam jangka panjang.

Resiko paling bisa saja yakni infeksi akibat proses pelaksanaan vaksin palsu di lingkungan yg tak steril.

“Saat pencampuran mampu berlangsung kontaminasi bakteri, virus, atau kuman. Maka sanggup saja anak diwaktu disuntikkan mengalami infeksi lokal di second suntikan. Jika cairan produsen vaksin palsu yg terkontaminasi, infeksi dapat meluas ke semua badan. Tipe infeksinya pun tergantung apa yg mengontaminasi,” kata Dirga terhadap jurnalis BBC Indonesia, Jerome Wirawan.

Dapat tapi, tambah Dirga, kalaupun berlangsung infeksi, keadaan itu terjadi serentak sesudah penyuntikan dilakukan.

Resiko vaksin palsu setelah itu dapat ditinjau dari sudut proteksi. Dirga, yg membawa sektor studi vaksinologi di Kampus Siena, Italia, itu menyampaikan bahwa seseorang anak tak mempunyai proteksi atau perlindungan atas virus-virus tertentu akibat vaksin palsu yg disuntikkan padanya.

“Seorang anak umumnya mendapat suntikan vaksin BCG diwaktu usianya mencapai dua bln. Apabila anak tersebut mendapat vaksin BCG palsu, sehingga sampai hri ini tubuhnya rentan kepada kuman TBC,” ucap Dirga.

Aspek senada diutarakan dr. Nafrialdi, PhD dari Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Kampus Indonesia. Katanya, lumrah ada kekhawatiran jikalau seseorang anak tak mendapat vaksin yg benar.

“Kita nggak tahu apakah sejak ia mendapat vaksin palsu dirinya sempat terkontaminasi kuman TBC atau tak. Jika terkontaminasi, kumannya hidup, bertambah tidak sedikit, & penyakitnya timbul,” tutur dr Nafrialdi.
Gimana trik membedakan vaksin palsu & yg original?

Baca Juga :

Dirga Sakti Rambe, dokter spesialisasi di bagian vaksinologi, mengemukakan susah bagi orang awam utk membedakan vaksin palsu & vaksin original.

Dengan Cara kasat mata, jelasnya, bungkus luar vaksin palsu & vaksin original hampir sama. Tetapi, kalau dipandang dengan cara jeli, tanggal kadaluarsa & kode unik kepada bungkus luar vaksin palsu tidak serupa dgn yg tertera terhadap vaksin di dalamnya.

“Tanggal kadaluarsa & kode unik terhadap kemasan pembungkus bersama yg tercantum terhadap vaksin di dalam harusnya sama persis. Apabila beda, itu telah tentu palsu,” kata Dirga.

Direktur Yayasan Pemberdayaan Pembeli Kesehatan Indonesia (YPKKI) Marius Widjajarta mengaku sempat menemukan vaksin palsu kepada 2014.

“Pada salah satu vaksin BCG, antara cover & mengisi berlainan kode unik & tanggal kadaluarsanya. Di cover tercatat kadaluarsa bln Nopember 2014. Isinya, kadaluarsa bln Maret 2014,” kata Marius yg berprofesi juga sebagai dokter di salah satu hunian sakit swasta di Jakarta.

Bagaimanapun, baik Dirga ataupun Marius, menegaskan bahwa cuma tenaga medis yg mengetahui perbedaan itu. Lagipula, kepastian 100% suatu vaksin tergolong palsu seandainya dilakukan sensor laboratorium.
Apakah bayi yg diduga mendapat vaksin palsu butuh vaksinasi ulang?

Jawabannya, butuh. Menurut Dirga Sakti Rambe, dokter spesialisasi di bagian vaksinologi, para bayi & balita yg diduga mendapat vaksin palsu di 37 sarana kesehatan yg diumumkan Kementerian Kesehatan butuh mendapat vaksinasi ulang.

Factor ini mengizinkan sebab seluruhnya jadwal pemberian vaksin sanggup dikejar.

“Misalnya, ada anak yg mendapat tiga vaksinasi hepatitis B di hunian sakit yg tempo hari dinamakan. Dulu, anak itu kini telah berumur tiga thn. Anak itu mampu mendapat vaksinasi hepatitis B lagi lantaran dikhawatirkan vaksinasi yg pada awal mulanya diberikan palsu,” kata Dirga.

Poin ke-2 kenapa vaksinasi ulang aman dilakukan, lanjut Dirga, merupakan lantaran tak ada istilah overdosis vaksin.

“Kalau obat ada overdosis obat. Namun, bila vaksin, tak ada istilah itu. Menjadi aman bagi orang lanjut umur utk memberikan vaksinasi ulang terhadap anak mereka. Bahkan, kalaupun ada satu orang ragu apakah dia sempat mendapat vaksin kategori tertentu, beliau mampu divaksinasi ulang,” pungkas Dirga. 

Itulah yang dapat saya sampaikan pada saat ini untuk anda yang ingin tahu informasi kesehatan terupdate lainya silahkan kunjungi atau klik saja Artikel kesehatan yang merupakan situs resmi yang menyajikan informasi kesehatan setiap harinya, pengobatan bahkan dapat langsung memesan obat herbal disini.

 

Related For Dampak Vaksin Palsu Bagi Kesehatan